Aksiologi: Nilai Kegunaan Ilmu

A. MAKNA AKSIOLOGI 
         Aksiologi adalah asal mengenai cara menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun. Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah. Dan merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu. Ilmu tidak banyak mengubah wajah dunia seperti halnya memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan dan berbagai wajah kehidupan yang sulit lainnya. Singkatnya ilmu merupakan sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan aksiologi, kita akan menguraikan beberapa defenisi tentang aksiologi diantaranya :
 • Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”. 
• Sedangkan arti aksiologi yang terdapat didalam bukunya Jujun S.Surissumantri filsafat ilmu sebuah pengantar populer bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. 
• Menurut Bramel, aksiolog terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik yang akan melahirkan filsafat sosio politik. • Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan, aksiologi disamakan dengan value and valuation.          Ada 3 bentuk dari value and valuation yaitu Nilai yang digunakan sebagai kata benda abstrak, nilai sebagai kata beda konkret dan nilai yang digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai dan dinilai. 
         Dari defenisi-defenisi mengenai aksiologi diatas terlihat dengan jelas bahwa permasalahan yang utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang ada dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.

 B. METAFISIKA AKSIOLOGI 
        Koestanbum pada tahun 1968 mendefenisikan metafisika sebagai studi mengenai karateristik-karateristik yang sangat umum dan paling dasar dari kenyataan yang sebenarnya. Metafisika menguji aspek kenyataan seperti ruang dan waktu, kesadaran, jiwa dan materi, ada (being), eksistensi, perubahan, substansi dan sifat, aktual dan potensional dan lain sebagainya. Metafisika pada asasnya meneliti perbedaan atara penampakan (appearance) dan kenyataan (reality). Karena benda-benda tidak sepenuhnya tampak sebagaimana adanya, maka tugas metafisika adalah untuk mengungkap apa yang ada di dasar pengalaman kita atau kenyataan apa yang sesungguhnya tersembunyi dibelakang penampakan indera kita. Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisiten mengenai perilaku etis. 
         Aksiologi menjawab untuk apa ilmu yang berupa pengetahaun itu dipergunakan. Nilai yang dimaskdud dalam aksiologi adalah sesuatu yang dilakukan manusia untuk pertimbangan dalam hal apa yang dinilai. Aksiologi membedakan fakta dan nilai.

 C. LANDASAN DAN CABANG AKSIOLOGI                    Landasan ontologi merupakan bidang filsafat yang mengkaji hakikat keberadaan sesuatu sesuai dengan tata hubungan ynag sisitematis berdasarkan hukum sebab akibat. Landasan ontologi filsafat menganggap bahwa dunia dikuasai oleh aturan-aturan baik yang disesuaikan dengan tata alam. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika. 
        Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normative dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana dijumpai dalam kehidupan yang menjelajahi berbagai kawasan seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun kawasan material. Aksiologi terdiri atas analisis tentang kepercayaan, keputusan dan kosep moral dalam rangka menciptakan atau menemukan suatu teori nilai. Menurut jalalaudin aksiologi terbagi atas tiga bagian yaitu : 
1. Moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika. 
2. Esttic expression, yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melahirkan keindahan.
3. Sosio-political life, yaitu keindahan sosial-politik, yang akan melahirkan filsafat sosial politik., yang akan melahirkan filsafat sosial politik.

 D. KEGUNAAN AKSIOLOGI
      Aksiologi merupakan dimensiyang berkaitan dengan ilmu dan moral atau nilai yang menjadi acuan seorang ilmuan, dan tanggung jawab sosial ilmuan. Kegunaan ilmu tidak pernah lepas dari kepentingan manusia, yang artinya ilmu harus membawa dampak positif bagi manusia. Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika dimana makna etika memiliki dua arti yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia dan satu predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan, tingkah laku atau yang lainnya. 
        Nilai ini bersifat objektif tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tdak tergantung pada kebenaran pendapat individu melainkan pada pbjektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif apabila subjek berperan dalam memberi penilaian. 
        Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senag atau tidak senang. Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi, sains dan teknologi dikembangkan untuk memudahkan hidup manusia agar menjadi lebih mudah dan nyaman.


                      DAFTAR PUSTAKA 
 Bakhtiar, Amsal. 2014. filsafat Ilmu volume 266 (halaman251). Depok : RajaGrafindo. 

 S.Suriasumantri, Jujun. 2009. Filsafat ilmu sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka sinar harapan. 

 Salam, Burhanuddin. 1997. filsafat ilmu pengetahuan. Jakarta: Reneka cipta.

Komentar