Kebenaran Ilmiah

A. ARTI KEBENARAN 
        Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Karena itu,kegiatan berpikir adalah usaha untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu atau kriteria kebenaran. Pada setiap jenis pengetahuan tidak sama kriteria kebenarannya karena sifat dan watak pengetahuan itu berbeda. 
       Pengetahuan tentang alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik. Alam fisik pun memilikiperbedaan ukuran kebenaran bagi setiap jenis dan bidang pengetahuan. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran,namun masalahnya tidak hanya sampai di tuju saja. problem kebenaran inilah yang memicu tumbuh dan berkembangan epistemologis. 
       Telaah epistemologi terhadap kebenaran membawa orang kepada suatu kesimpulan bahwa perlu dibedakan adanya 3 jenis kebenaran, yaitu kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis dan kebenaran semantis. Kebenaran epistemologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa. 

B. TEORI KEBENARAN ILMIAH
 1. Teori Korespondensi 
       Teori pertama adalah teori korespondensi, The accordance theory of truth yang kadang disebut The accordance theory of truth. Menurut teori ini,kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaiaan (Correspondence) antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang ditujuoleh pernyataan atau pendapat tersebut.dengan demikian,kebenaran epistemologis adalah kemanunggalan antara subjek dan objek pengetahuan itu dikatakan benar apabila di dalam kemanunggalan yang sifatnya intrinsic, intensional dan pasif-aktif terdapat kesesuaiaan antara apa yang ada didalam objek.
      Hal itu karena puncak dari proses kognitif manusia terdapat di dalam budi atau pikiran manusia (intelectus), maka pengetahuan adalah kebenaran bila apa yang terdapat di dalam budi pikiran subjek atau benar sesuai dengan apa yang ada di dalam objek. 
        Suatu proporsi atau pengertian adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang diselarasakannya,yaitu apabila menyatakan apa adanya.kebenaran adalah yang sesuaiaan dengan fakta,yang berselaras dengan realitas,yang serasi (correspondents) dengan situasi aktual. 
        Teori korespondensi ini pada umumnya dianut oleh para pengikut realisme. Diantara pelopor teori korespondensi ini adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey dan Tarski. Teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russell (1872-1970). Realisme epistemologis berpandangan, bahwa terdapat realitas yang independen (tidak tergantung), yang terlepas dari pemikiran dan kita dapat mengubahnya bila kita mengalaminya atau memahaminya. 
       Sedangkan idealisme epistemologis berpandangan bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dalam suatu ide, yang merupakan suatu peristiwa subjektif. Dalam dunia sains, teori ini sangat penting sekali digunakan guna mencapai suatu kebenaran yang dapat diterima oleh semua orang. Penelitian sangat penting dalam teori korespondensi karena untuk mengecek kebenaran suatu teori perlu melakukan penelitian ulang.

2. Teori Koherensi tentang Kebenaran 
        Teori yang kedua adalah teori koherensi atau konsistensi, The consistence theory of truth, yang sering pula dinamakan The coherence theory of truth. Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan ketahui kebenarannya terlebih dahulu. 
         Menurut teori ini putusan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lain. Karenanyalah lahir rumusan: Truth is a systematic coherence kebenaran adalah salaing hubungan yang sisitematis, Truth is consistency kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan.
          Teori konsistensi atau koherensi ini berkembang pada abad ke-19 dibawah pengaruh Hegel dan diikuti oleh pengikut mazhab idealisme. Seperti filsuf Britania F.M Bradley (1864-1924). Mengenai teori koherensi ini dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, Kebenaran menurut teori ini ialah kesesuaian antara satu pernyataan dengan pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu kita ketahui, terima dan akui sebagai benar. Kedua, teori ini sepertinya dapat dinamakan teori penyaksian (justifikasi) tentang kebenaran, karena menurut teori ini satu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian-penyaksian (justifikasi-pembenaran) oleh putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima dan diakui kebenarannya. 

 3. Teori Pragmatisme tentang kebenaran 
       Teori yang ketiga adalah teori pragmatisme tentng kebenaran, The pragmatic (pramagtist) theory of truth. Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma artinya yang dikerjakan, yang dilakukan, perbuatan, tindakan, sebutan bagi filsafat yang dikembanngkan oleh William James di Amerika serikat. 
        Menurutnya filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori semata mata bergantung kepada asas manfaat. Menurut teori pragmatisme suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia. Teori, hipotesa atau ide benar apabila ia membawa kepada akibat yang memuaskan, apabila ia berlaku dalam praktik,apabila ia berlaku dalam praktik dan apabila ia mempunyai nilai praktis. 
        Kebenaran terbukti oleh kegunaanya, oleh hasilnya dan oleh akibat-akibat praktisnya. Jadi kebenaran ialah apa saja yang berlaku (works). 4. Agama sebagai Teori Kebenaran Manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Salah satu cara untuk mnemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. 
         Agama dengan karaterisktiknya sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia baik tentang alam, manusia maupun tentang tuhan. kalau ketiga teori kebenaran sebelumnya lebih mengedepankan akal, budi, daya dan rasio manusia dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari tuhan. Penalaran dalam mencapai ilmu pengetahuan yang benar dengan berpikir setelah melakukan penyelidikan, pengalaman dan percobaan sebagai trial and error. 
       Sedangkan manusia mencari dan menentukan kebenaran sesuatu daam agama dengan jalan mempertanyakan atau mencari jawaban tentang berbagi masalah asasi dari atau kitab suci. Dengan demikian, suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. 
        Oleh karena itu, sagat wajar ketuka Imam Al-ghazali merasa tidak puas dengan penemuan akalnya dalam mencapai suatu kebenaran. Akhirnya Al-ghazali sampai pada kebenaran yang kemudian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang amat panjang dan terbelit-belit. Tasawuflah yang menghilangkan keraguan tentang segala sesuatu. 
        Kebenaran menurut agama inilah yang dianggap oleh kaum sufi sebagai kebenaran mutlak yaitu kebenaran yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi. Namun, Al-ghazali tetap merasa kesulitan menentukan kriteria kebenaran yang didapatnya adalah kebenaran subjektif atau inter-subjektif. 



                 DAFTAR PUSTAKA 
Bakhtiar, Amsal. 2014. filsafat Ilmu volume 266 (halaman251).Depok : RajaGrafindo. 

 Wathloly, Aholiab. 2002. Tanggung jawab pengetahuan (halaman 157). Yogyakarta: Kanisius. 

 S.Suriasumantri, Jujun. 2000. Filsafat ilmu sebuah pengantar populer (halaman 57). Jakarta: Pustaka sinar harapan.

Komentar