Tantangan Masa Depan Ilmu

A. KEMAJAUN ILMU DAN KRISIS KEMANUSIAAN
        Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya teknologi telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ibarat cerita raja Midas yang menginginkan setiap apa yang disentuhnya berubah menjadi emas, ternyata ketika keinginannya dikabulkan, dia tidak semakin senang tetapi semakin gelisah dan gila. Sebab, tidak saja rumah da nisi rumahnya yang menjadi emas tetapi anak dan istrinya dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang raja akhirnya meratapi nasib yang kesepian tanpa makhluk hidup yang mendampinginya.
        Begitupun dengan kemajuan ilu dan teknologi yang semula untuk memudahkan urusan manusia, ketika urusan itu semakin mudah, maka muncul “kesepian” dan “keterasingan baru” yakni yang menyebabkan lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan dan silaturrahmi. Contohnya penemuan TV, computer dan Handphone yang telah mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Layar kemudian menjadi teman setia bahkan kita lebih memperhatikan layar dibandingkan istri dan anak sekalipun. 
       Bayangkan, hampir setiap bangun tidur kita menekan tombol Tv untuk melihat layar tayangan, pergi ke kantor tekan tombol Hp melihat layar untuk ber-SMS ria atau sekedar bermain game. Ini baru dalam rumah tangga sendiri, apalagi dengan tetangga, mungkin bertemu tetangga hanya ketika ada bendera kuning (tanda kematian) berdiri di depan rumah tetangga. Ketika itu kita baru sadar ada tetangga kita yang wafat. Dengan sedikit basa-basi kita membesuk selamat berbelasungkawa sebentar sebelum pergi ke kantor atau urusan lainnya.
         Ternyata teknologi layar dapat membius manusia untuk tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain. Jika manusia tidak sadar akan hal ini maka dia akan merasa kesepian dan kehilangan sesuatu yang amat penting dalam dirinya, yakni kebersamaan, hubungan kekeluargaan dan sosialisasi yang hangat.
Pada ilmu bioteknologi, perkemangan yang dicapai sangat maju seperti rekayasa genetika dan teknologi kloning menandakan kemajuan yang begitu dahsyat sehingga mengkhawatirakan semua kalangan. Contohnya, rekayasa genetika yang dulunya diharapkan untuk mengobati penyakit turunan, seperti diabetes sekarang rekayasa ini tidak hanya digunakan untuk pengobatan tetapi untuk menciptakan manusia-manusia baru yang sama sekali berbeda,baik dari segi postur fisik maupun sifat lainnya.
         Persoalan berikutnya adalah dimana letak kebebasan manusia dalam memilih hak hdupnya dan untuk mmiliki ciri khas. sebab jika sejak awal dia direkayasa untuk menjadi manusia tertentu, maka kebebasan memilahnya menjadi hilang dan dia tidak ubahnya seperti robot yang dikendalikan oleh orang lain. Jika tenologi ini jatuh ketangan penjahat maka akan terjadi kekacauan yang luar biasa dalam kehidupan umat manusia. 
          Krisis kemanusiaan tidak saja terjadi akibat teknologi maju, tetapi juga akibat dari kecenderungan, ideology dan gagasan yang tidak utuh. contoh nya ide dan gerakan emansipasi yang dikumandangkan oleh para penggerak feminisme yang mendorong agar wanita diberi kesempatan yang sama diarea pubik dengan laki-laki. Kesempatan ini kemudian ternyata dimanfaatkan oleh perusahaan padat karya dengan merekrut pekerja perempuan lebih banyak dibandingkan pekerja laki-laki. Perusahaan sekarang lebih banyak merekrut pekerja perempuan denagn pertimbangan lebih rapi, lebih sopan, lebih rendah gaji, lebih mudah diatur dan tidak merepotkan perusahaan.                      Akibatnya, kaum laki-laki susah mendapatkan pekerjaan dan implikasi lebihh lanjut berimbas ke rumah tangga menjadi berantakan karena perempuan yang merasa lebih hebat dari kaum lelaki. Disisi lain, laki-laki akan anyak yang menganggur dan akan berbuat apa saja untuk mendapatkan uang seperti merampok, mencuri bahkan membunuh jika sudah sangat terdesak sehingga angka kriminalitas menjadi sangat tinggi.
     Jika kita tidak mau kehilangan eksistensi kemanusiaan dan terhindar dari krisis kemanusiaan, maka kita harus berjuang untuk membebaskan diri dari kungkungan teknologi kembali ke eksisitensi awal yakni manusia yang kreatif dan dinamis. Penyadaran terhadap bahaya yang begitu besar bagi kemanusiaan perlu terus dikumandangkan terutama kepada penguasa yang memiliki otoritas dalam mengambil kebijakan.

B. AGAMA, ILMU DAN MASA DEPAN MANUSIA
          Agama dan ilmu dalam beberapa hal yang berbeda, namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual), cenderung eksklusif dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru, tidak terlalu terikat dengan etika, progresif, bersifat inklusif dan objektif. Kendati agama dan ilmu berbeda, keduanya memiliki persamaan yakni bertujuan memberi ketenangan dan kemudahan bagi manusia.
         Agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan setelah mati, sedangkan ilmu memberi ketenangan serta kemudahan bai kehidupan di dunia. Karateristik agama dan ilmu tidak terlalu harus dilihat dalam konteks yang berseberangan, tetapi juga perlu dipikirkan bagaimana keduanya bersinergi dalam membantu kehidupan manusia yang lebih layak. Contohnya ilmu dan teknologi mampu engantarkan manusia dalam tataran global, yang juga sering disebut era reformasi, tetapi kehidupan yang global itu pula mampu menyengsarakan sebagian besar penduduk di kulit bumi ini.
        Namun, disisi lain manusia semakin ketergantungan pada teknologi informasi sehingga tdak mampu lagi membedakan diantara yang benar-benar nyata dan hasil rekayasa termasuk rekayasa informasi. Teknologi ternyata disadari atau tidak diciptakan sesuatu yang tidak diprediksi sebelumnya. ilmu dan teknologi mengalami degradasi nilai dan akhirnya dapat memenjara ilmu dan teknologi itu dalam satu kerangka tertentu.
        Manusia merupakan makhluk yang future-oriented, tindakan dan pertimbangan pada saat ini penting untuk memprediksi persoalan-persoalan masa depan. Yang jelas konsep agama tentang hari akhirat adalah salah satu ajaran yang penting, tidak saja dari aspek teologis, tetapi juga psikologis dan historis. Dalam islam ada 10 nama surat dari 114 surat tentang hari kiamat. Dalam agama-agama pandangan mengenai hari depan tidak seragam. Ada yang berpandangan bahwa tujuan hari akhir kehidupan ini adalah Nirwana yakni ketiadaan dan dalam keadaan itu sifat dan keinginan kemanusiaannya hilang. Namun, jika dia mampu menghilangkan semua sifat dan keinginannya saat itulah tujuan dan kesempurnaan hidup akan tercapai.
          Dalam pandangan agama, ilmu dan teknologi bukan merupakan aspek ehidupan umat manusia yang tertinggi. Tidak juga merupakan puncak kebudayaan dan peradaban umat manusia didlam evolusinya mencapai kesempurnaan hidup. Ilmu pengetahuan dan teknologi memakai rasio (akal) yang tajam. Kerohanian, kejiwaan agama memakai intuisi sebagai sarana masing-masing untuk membuktikan kebenarannya dan meghayati hakikatnya. 
         Adanya tantangan mendalam ortodaksi agama dan adanya konsekuensi kedigdayaan teknologi genetika, makamsangat penting bagi kita untuk mendengar pandangan dan pikiran pada teolog dan filosof dari berbagai agama. lebih jauh dari menekankan bahwa sebagai manusia, kita tentu tak akan luput dari berbuat kesalahan, demikian juga masyarakat.
         Selanjutnya teknologi genetika yang menyentak imajinasi ataupun emosi sebagaimana teknologi kloning manusia. Menurut para peneliti Human Genome Project bahwa kloning merupakan tiruan gen dan kepingan kromosom lainnya untuk menghasilkan bahan identic yang cukup jumlahnya untuk dikaji lebih lanjut. akan tetapi, kloning ini dikritisi oleh 19 Negara Eropa ada bulan januari 1997 dengan menandatangani perjanjian  yang menyebutkan bahwa mengklon orang sama saja melanggar martabat manusia dan merupakan penyalahgunaan ilmu. 
          Ilmu dapat ditempuh oleh biasnya sendiri sebagaimana juga agama. Di dunia barat dewasa ini, tujuan ilmu adalah menjelaskan alam fisik sementara tujuan agama adalah menjelaskan alam spiritual.Ilmu mengira bahwa ilmu tidak memiliki filsafat dan sekedar mengkaji dan mengukur benda secara empiris . Padahal sesungguhnya ilmu juga memiliki filsafat ilmu hanya menganggap benda yang empiris. dan ilmu tidak melatih penganutnya untuk berpikir secara filosofis.
         Disinilah ilmu dan teknologi tidak harus dilihat dari aspek yang sempit, tetapi harus dilihat dari tujuan jangka panjang dan untuk kepentingan kehidupan yang lenih abadi. kalau visi ini yang diyakini oleh para ilmuan dan agamawan, maka harapan kehidupan kedepan akan lebih cerah dan sentosa. Tentusaja pemikiran-pemikiran seperti ini perlu dukungan dari berbagai pihak untuk terwujudnya masa depan yang cerah dan harmonis.




                       DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. 2014. filsafat Ilmu volume 266 (halaman251).Depok : RajaGrafindo.

Berdyev, Nicolas. The destiniy of man (halaman 225-226)

LP3ES. 1985. Agama dan tantangan zaman. Jakarta: LP3ES.

Rifai, Bachtiar. 1986. Perspektif dari pembangunan ilmu dan teknologi. Jakarta: PT. Gramedia.

Komentar